GBP/USD atau pasangan mata uang Poundsterling Inggris terhadap Dolar Amerika Serikat menunjukkan potensi koreksi setelah mengalami tren naik yang kuat sejak Maret 2025. Dalam analisa teknikal minggu ini (timeframe 1W), terlihat adanya tekanan bearish yang mulai terbentuk.
Pada grafik mingguan, harga GBP/USD sempat menyentuh level tertinggi 1.36221, namun kemudian turun dan ditutup lebih rendah di 1.34610. Ini membentuk candlestick bearish, yang bisa menjadi sinyal koreksi setelah tren naik dalam beberapa minggu terakhir.
Terus bagaimana kalo secara TF D? oke mari lanjutkan...
Analisa Fundamental GBP/USD (GU) – 18 Juni 2025: Fokus Pasar ke Inflasi dan Kebijakan Suku Bunga
Pasangan mata uang GBP/USD masih bergerak fluktuatif di tengah berbagai sentimen ekonomi global. Sejumlah faktor fundamental penting sedang memengaruhi pergerakan harga, mulai dari data inflasi Inggris, kebijakan suku bunga The Fed, hingga kondisi makro ekonomi global.
1. Inflasi Inggris: Mulai Melandai
-
CPI Inggris terbaru menunjukkan angka yang lebih rendah dari ekspektasi pasar.
-
Ini memicu ekspektasi bahwa Bank of England (BoE) tidak akan agresif menaikkan suku bunga lagi, bahkan berpeluang mulai menurunkan dalam beberapa bulan ke depan.
-
Dampaknya: GBP cenderung melemah karena kehilangan daya tarik bagi investor global.
2. Bank of England vs The Fed
-
BoE saat ini mempertahankan suku bunga di 5,25%, namun ada tekanan politik dan ekonomi untuk mulai melonggarkan kebijakan moneter.
-
The Fed (AS) juga mempertahankan suku bunga stabil, tetapi retorika dari pejabat Fed menunjukkan kecenderungan dovish (pelonggaran).
-
Dampaknya: Perang sentimen antara GBP dan USD menciptakan fluktuasi, namun GU masih cenderung sideways karena kedua bank sentral belum menunjukkan arah tegas.
3. Data Ekonomi Amerika Serikat (AS)
-
Retail Sales dan PMI AS menunjukkan hasil campuran: sektor konsumen kuat, tetapi manufaktur lemah.
-
The Fed masih menunggu data inflasi lanjutan untuk mengambil keputusan final soal suku bunga.
-
Dampaknya: USD menjadi cenderung lemah sementara, memberi ruang bagi GU untuk naik terbatas.
4. Perlambatan Ekonomi Inggris
-
Data terakhir menunjukkan penurunan pada sektor jasa dan manufaktur.
-
Ketidakpastian pasca-Brexit dan tekanan domestik membuat ekonomi Inggris masih belum pulih sepenuhnya.
-
Ini menjadi beban tambahan bagi GBP dalam jangka menengah.
5. Sentimen Global dan Risiko Geopolitik
-
Investor saat ini masih mencermati risiko geopolitik global (misal: ketegangan Tiongkok-AS, perang dagang, dll).
-
Dalam situasi risk-off, USD cenderung menguat sebagai aset safe haven.
-
Dalam situasi risk-on, GBP bisa menguat terbatas.



Komentar
Posting Komentar